Vol. 2 No. 2 (2026): June
Articles

Implementasi Model Pembelajaran Berbasis Nilai Keteladanan untuk Membentuk Karakter Siswa di Era Digital

Amrosy Amrosy
Universitas At-Taqwa Bondowoso
Alfa Mardani
Universitas At-Taqwa Bondowoso
Ansori Ansori
Universitas At-Taqwa Bondowoso

Published 2026-06-28

Keywords

  • Keteladanan,
  • Pendidikan Karakter,
  • Era Digital,
  • Model Pembelajaran,
  • Siswa

Abstract

Era digital menghadirkan tantangan serius bagi dunia pendidikan dalam internalisasi nilai moral dan pembentukan karakter siswa. Penelitian ini menganalisis implementasi model pembelajaran berbasis keteladanan (uswah hasanah) sebagai strategi pembentukan karakter di era digital, menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka dan desk review. Hasil penelitian menunjukkan: (1) model keteladanan mencakup tiga dimensi yaitu kognitif, afektif, dan behavioral yang saling berinteraksi dalam membentuk karakter siswa; (2) implementasi di era digital menuntut adaptasi berupa keteladanan digital, di mana guru berperan sebagai role model penggunaan teknologi secara etis dan bertanggung jawab; serta (3) efektivitasnya ditentukan oleh konsistensi antara nilai yang diajarkan dan diteladankan, didukung ekosistem pendidikan yang kondusif. Penelitian ini menghasilkan kerangka konseptual keteladanan yang responsif terhadap tantangan digital, sekaligus memberikan implikasi praktis bagi guru dan pemangku kebijakan pendidikan.

References

  1. APJII. Survei penetrasi internet Indonesia 2022-2023. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, 2023.
  2. Bandura, A. Social learning theory. Prentice-Hall, 1977.
  3. Bennett, N, dan G J Lemoine. “What a difference a word makes: Understanding threats to performance in a VUCA world.” Business Horizons 57, no. 3 (2014): 311–17. doi:10.1016/j.bushor.2014.01.001.
  4. Berkowitz, M W, dan M C Bier. What works in character education. Character Education Partnership, 2005.
  5. ———. What works in character education. Character Education Partnership, 2005.
  6. Bronfenbrenner, U. The ecology of human development. Harvard University Press, 1979.
  7. Brown, M, R E McGrath, M C Bier, K Johnson, dan M W Berkowitz. “A comprehensive meta-analysis of character education programs.” Journal of Moral Education 52, no. 2 (2023): 119–38. doi:10.1080/03057240.2022.2060196.
  8. Hairon, S, dan C Dimmock. “Singapore schools and professional learning communities.” Educational Review 64, no. 4 (2012): 405–24. doi:10.1080/00131911.2011.625111.
  9. I, Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi R. Kurikulum Merdeka: Profil Pelajar Pancasila, 2022.
  10. Indonesia, Republik. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (2017).
  11. Jenkins, H, R Purushotma, M Weigel, K Clinton, dan A J Robison. Confronting the challenges of participatory culture. MIT Press, 2009.
  12. ———. Confronting the challenges of participatory culture. MIT Press, 2009.
  13. Kominfo. Indeks literasi digital Indonesia 2023, 2023.
  14. Lickona, T. Character matters. Touchstone, 2004.
  15. ———. Educating for character. Bantam Books, 1991.
  16. Lickona, T, dan M Davidson. Smart & good high schools. Character Education Partnership, 2005.
  17. Majid, A, dan D Andayani. Pendidikan karakter perspektif Islam. Remaja Rosdakarya, 2013.
  18. Miles, M B, A M Huberman, dan J Saldana. Qualitative data analysis. Sage Publications, 2014.
  19. Mulyasa, E. Manajemen pendidikan karakter. Bumi Aksara, 2013.
  20. Nata, A. Ilmu pendidikan Islam. Kencana, 2020.
  21. Pianta, R C. Enhancing relationships between children and teachers. American Psychological Association, 1999.
  22. Ribble, M. Digital citizenship in schools. ISTE, 2015.
  23. Rifki, M, S Sauri, A Abdussalam, U Supriadi, dan M Parid. “Internalisasi nilai-nilai karakter melalui metode keteladanan guru di sekolah.” Jurnal Basicedu 7, no. 1 (2023): 89–98. doi:10.31004/basicedu.v7i1.4274.
  24. ———. “Internalisasi nilai-nilai karakter melalui metode keteladanan guru di sekolah.” Jurnal Basicedu 7, no. 1 (2023): 89–98. doi:10.31004/basicedu.v7i1.4274.
  25. Roorda, D L, H M Y Koomen, J L Spilt, dan F J Oort. “The influence of affective teacher-student relationships.” Review of Educational Research 81, no. 4 (2011): 493–529. doi:10.3102/0034654311421793.
  26. Schon, D A. The reflective practitioner. Basic Books, 1983.
  27. Social, We Are. Digital 2024: Global overview report, 2024. https://wearesocial.com/global-digital-report/2024.
  28. Sutrisna, S, dan M Wahyudi. “Keteladanan guru dalam pembentukan karakter perspektif KH. Jamaluddin Ahmad.” Journal of Early Childhood Education Studies 2, no. 2 (2022): 509–41. doi:10.54180/joeces.v2i2.3731.
  29. ———. “Keteladanan guru dalam pembentukan karakter perspektif KH. Jamaluddin Ahmad.” Journal of Early Childhood Education Studies 2, no. 2 (2022): 509–41. doi:10.54180/joeces.v2i2.3731.
  30. Twenge, J M. iGen. Atria Books, 2017.
  31. Valkenburg, P M, A Meier, dan I Beyens. “Social media use and its impact on adolescent mental health: An umbrella review of the evidence.” Current Opinion in Psychology 44 (2022): 58–68. doi:10.1016/j.copsyc.2021.08.017.
  32. Zubaedi. Desain pendidikan karakter. Kencana, 2011.